Laman

Minggu, 01 Januari 2012

Apakah Yesus betul-betul ada? Apakah ada bukti-bukti historis mengenai keberadaan Yesus Kristus?

Biasanya ketika pertanyaan ini ditanyakan, orang yang bertanya menambahkan, ”di luar Alkitab” kepada pertanyaan ini. Kita tidak menerima pemikiran bahwa Alkitab tidak boleh dipertimbangkan sebagai sumber dari bukti keberadaan Yesus. Perjanjian Baru mengandung ratusan referensi tentang Yesus Kristus. Ada orang-orang yang menempatkan tanggal penulisan Injil pada abad kedua Masehi, lebih seratus tahun setelah kematian Yesus. Sekalipun penanggalan ini benar (dan kami dengan tegas mempertanyakan kebenarannya), dalam konteks bukti-bukti dari zaman kuno, tulisan yang dihasilkan kurang dari 200 tahun setelah terjadinya suatu peristiwa dianggap sebagai bukti-bukti yang sangat dapat dipercaya. Lebih dari itu, mayoritas dari para sarjana (Kristen dan non-Kristen) menerima bahwa surat-surat Paulus (paling sedikit beberapa dari surat-surat Paulus ditulis oleh Paulus pada pertengahan abad pertama Masehi, kurang dari 40 tahun setelah kematian Yesus. Dalam hal pembuktian naskah kuno, ini adalah bukti yang sangat luar biasa mengenai keberadaan seseorang yang bernama Yesus di Israel pada awal abad pertama Masehi.

Apakah keillahian Kristus bersifat Alkitabiah?

Selain Yesus secara spesifik mengklaim diriNya sebagai Allah, para muridNya juga mengakui keillahian Kristus. Mereka mengklaim bahwa Yesus memiliki kuasa untuk mengampuni dosa, sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan karena dosa adalah melawan Tuhan (Kisah Rasul 5:31; Kolose 3:13; bandingkan Mazmur 130:4; Yeremia 31:34). Berhubungan erat dengan klaim yang terakhir ini, Yesus juga disebut sebagai yang akan “menghakimi orang yang hidup dan yang mati” (2 Timotius 4:1). Thomas berseru kepada Yesus, “Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28). Paulus menyebut Yesus, “Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita” dan menunjuk bahwa sebelum Yesus berinkarnasi, Yesus sudah ada dalam “rupa Allah” (Filipi 2:5-8). Penulis Ibrani mengatakan tentang Yesus, "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya” (Ibrani 1:8). Yohanes mengatakan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman [Yesus] itu adalah Allah” (Yohanes 1:1). Contoh dari ayat-ayat Alkitab yang mengajarkan keillahian Kristus dapat dilipatgandakan (lihat Wahyu 1:17; 2:8; 22:13; 1 Korintus 10:4; 1 Petrus 2:6-8; bandingkan Mazmur 18:2; 95:1; 1 Petrus 5:4; Ibrani 13:20), namun salah satu dari ayat-ayat ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Yesus dipandang sebagai Allah oleh para pengikutNya.